(GAMBAR ATAS) DARI kiri: Datuk Chamil Wariya, Asro Kamal Rokan, Tan Sri Johan Jaaffar, Ilham Bintang dan Datuk Abdul Jalil Ali – Gambar akarpadinews.com.

 

Media sosial memainkan peranan sangat besar terhadap kehidupan generasi muda. Terutama, karena generasi millenial tak lagi terkungkung oleh batas geografis dan politik.

 
ORANG-ORANG muda yang biasa dijuluki Generasi Millenials bergerak sangat cepat dengan berbagai perubahan, baik global maupun lokal. Untuk mengimbangi percepatan dan dinamisnya perubahan itu, diperlukan kesadaran kolektif generasi sebelumnya mempelajari lebih banyak beragam perubahan dan nilai-nilai yang mempengaruhinya.
Tan Sri Johan Jaffar (JJ)- Chairman Media Prima (2009-2017) dan Ilham Bintang – Ketua Dewan Kehormatan PWI (2012-kini) mengemukakan pandangan demikian, dalam dialog ISWAMI (Ikatan Setiakawan Malaysia-Indonesia) di Hotel Everly – Putrajaya, Selasa (12/2/19) malam, di hadapan lawatan ‘Sahabat Media’ – Malaysia Indonesia yang melibatkan lebih dari 30 jurnalis Indonesia.

Di hadapan khalayak yang juga dihadiri petinggi Kementerian Komunikasi dan Multi Media Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Bernama, dan wartawan utama kedua negara, dalam diskusi yang dipandu Chamil Waria – CEO Malaysia Pers Institute (MPI), kedua tokoh jurnalis, itu memandang perlu memberikan perhatian khas kepada generasi millenial.

Keduanya merespon pandangan Datuk Zulkifli Hamzah – Timbalan Presiden ISWAMI Malaysia dan Asro Kamal Rokan – Presiden ISWAMI Indonesia, yang memandang perlu merawat upaya yang dilakukan para jurnalis dalam mengelola harmoni kedua negara sebatih di rantau Melayu, itu.

Menurut Asro, tak mudah merawat hubungan mesra kedua negara, karena generasi millenial mempunyai nilainya sendiri yang cenderung individualis. Senada dengan pandangan itu, Datuk Zulkifli Hamzah mengemukakan, hubungan baik kedua negara harus dijaga-baik,

Tan Sri Johan Jaaffar yang juga pelakon dan penulis naskah teater kenamaan Malaysia, itu melihat telah tiba dimensi baru hubungan kedua negara, yang sebenarnya mempunyai asal usul kebangsaan sama. Ke depan, untuk mewariskan hubungan itu, diperlukan platform baru, seirama dengan dinamika perkembangan dan percepatan multi media, multi format dan multi channel.

Para jurnalis dan pengamal media, menurut pendiri ISWAMI, itu tak lagi bisa bergantung hanya dengan platform konvensional, antara lain media sosial. Tan Sri JJ mengingatkan, perlunya menerima hakikat dan realitas, bahwa media sosial memainkan peranan sangat besar terhadap kehidupan generasi muda. Terutama, karena generasi millenial tak lagi terkungkung oleh batas geografis dan politik.

Ilham Bintang menguraikan fase-fase perkembangan hubungan kedua negara tak hanya dari sisi hubungan para jurnalis, juga dari sektor lain, khasnya film dan musik. Dia memandang, perubahan minda (mindset) dan budaya generasi millenial, mesti dipahami dengan berinteraksi langsung dengan mereka.

Ilham memberi ilustrasi komunikasi dirinya dengan anak-anaknya yang rata-rata generasi milenial, yang dalam banyak mengharuskannya menyesuaikan diri untuk mengetahui perubahan yang sesungguhnya.

Baik Tan Sri JJ dan Ilham Bintang, serta beberapa jurnalis utama yang hadir di dalam acara tersebut sama berpandangan, kemauan untuk memahami perubahan nilai sosial dan budaya, serta kemampuan menyerap aspirasi mereka, akan memungkinkan terjadinya pewarisan nilai yang akan bisa meneruskan hubungan mesra kedua negara.

Kata kuncinya adalah kesefahaman dalam melakukan pendekatan yang dipergunakan ISWAMI kepada generasi millenial untuk memelihara hubungan mesra itu. Reach out ke generasi millenial mesti menjadi agenda besar ISWAMI ke depan.

Kendati demikian, Menurut Tan Sri JJ, ISWAMI mesti terus menebar kesadaran kolektif di kalangan jurnalis dua negara untuk terus menjunjung tinggi kebenaran dan fakta dalam menggunakan sosial media, jangan sampai menyebar berita fake atau hoaks.

Terutama kini, ketika pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpin Mahathir Mohammad memberikan kebebasan baru bagi pers Malaysia. Kebebasan itu, menurut Tan Sri JJ, mesti dikelola lebih bijak.

Di penghujung Desember 2018, Tan Sri JJ menyambut hangat, lahirnya portal berita baru Malaysia, BebasNews yang didirikan oleh para wartawan yang memperjuangkan kebebasan pers di Malaysia. Ketika meng-alu-alu (menyambut) portal tersebut, Tan Sri JJ percaya, tantangan dunia jurnalis kian kompleks.

Tan Sri JJ mengemukakan, profesi kewartawanan menjadi semakin sukar hari ini. Bukan hanya disebabkan bahwa dunia media telah berubah begitu dramatik sekali tetapi di seluruh dunia wartawan semakin sukar menjalankan tugas mereka. Serangan kepada wartawan semakin dahsyat dengan beragam ancaman. Termasuk undang-undang. Tan Sri JJ mencatat, sepanjang 2018, 52 orang wartawan telah terbunuh di seluruh dunia, kebanyakannya di kawasan berkonflik yang mereka liputi. Termasuk nasib wartawan The Washington Post, Jamal Khashoggi yang dibunuh secara kejam di Kedutaan Arab Saudi di Istanbul.

Belum lagi, ada pemimpin dunia yang memang sengaja memusuhi media, bahkan melabelkan wartawan yang tidak disenanginya sebagai enemy of the people (musuh rakyat). Ironis memang, karena menurut Tan Sri JJ, semakin “terbuka” dunia hari ini dengan segala kecanggihan teknologi pemberitraan dan peralatan state-of-the art, semakin sukar wartawan menjalankan kerjanya. JJ mencatat kajian Freedom House tahun 2017, hanya 13 persen penduduk dunia menikmati kebebasan pers yang sebenarnya, selebihnya harus hidup dengan pengawasan media.

Datuk Abdul Jalil, penasihat Grup Media Karangkraf, berpandangan seirama. Dia mengemukakan, pewarisan kesadaran merawat hubungan kedua negara di kalangan generasi milenial, dapat dikembangkan dengan memahami, bahwa generasi milenial memiliki pandangan lebih terbuka.

http://www.akarpadinews.com/read/polhukam/perlu-memahami-perubahan-generasi-milenial

Leave a Reply